Senin, 29 April 2013

Cerpen "Cintaku Untukmu, Tapi Untuk Dia Cintamu"


Cintaku Untukmu, Untuk Dia Cintamu 

Sahabat adalah seseorang yang kita butuhkan, tapi jika hati telah terjebak dalam indahnya sebuah harapan. Kita tak akan bisa mengelak. Sahabat haruslah tetap menjadi sahabat. Bukan menjadi cinta sebuah harapan tuk memilikinya. Dari semua itulah aku tersadar. Sahabatku bukan untuk cintaku.
Semua berawal dari siang itu.
Tin… tin..
Suara klakson sebuah mobil membuyarkan lamunanku. Pelan-pelan kubalikkan badanku melihat keluar jendela kamar.
“Siapa yang datang?” tanyaku dalam hati.
Aku berjalan lunglai menuju pintu. Tubuhku terasa lemah tak berdaya. Kubuka dengan pelan, kulihat siapa orang yang berdiri di depan pintu.
“Rendy?”
Bruk… aku terjatuh. Semua terasa gelap. Entah berapa lama aku merasakan kegelapan yang tak tau kapan ku raih cahaya. Tubuhku terasa melayang, Ku dengar bisikan lembut, suara yang ku rindu.
“Marsya…!” panggil suara itu.
“Sya, aku kangen  kamu, kamu cepat bangun, aku ingin kamu buka mata kamu.” Suara lembut itu terdengar indah.
Ku buka mata ini perlahan, kulihat cahaya terang, ruangan putih bercampur biru langit, warna yang ku suka. Ku palingkan wajahku. Ku temukan sesosok tubuh, orang yang selama ini ku rindukan. Tak terasa senyumku langsung mengembang. Tapi, air mata mengalir di pipiku.
“Sya! Kenapa kamu nangis? Kamu gak apa-apakan? Sya, kamu masih ingat aku kan?”
          Ya, tentu aku masih ingat kamu, orang yang ku sayangi. Tapi bibir ini tak sanggup mengatakan apa-apa. Kepalaku terasa pusing, aku ingin berdiri, tapi sepasang tangan menghadangku. Ku lihat seisi ruangan, mama, ayah, kak Farid, dan Rendy. Saat itulah aku menyadari, aku berada di rumah sakit.
          “Ya Tuhan… aku kenapa? Kenapa aku di sini?” tanyaku dalam hati.
          “Sya sayang, kamu udah gak apa-apakan? Kamu masih pusing?” tanya mama setelah aku sadar sepenuhnya.
          “Nggak apa-apa ma, Marsya kenapa?” aku balik bertanya.
          “Kamu cuma kecapekan aja kok, dan kamu kena magg. Makanya kamu tu jangan mikirin aku terus.” Jawab Rendy sambil bercanda.
          “Kamu ya nggak berubah! Tetep aja suka ngeledekin aku.”
          Senyum ku mengembang.Aku memang gak memungkiri, aku memang mikirin Rendy. Ingin rasanya aku memeluk dan berteriak… “AKU KANGEN KAMU REN…” tapi itu gak mungkin. Karena aku harus menyadari Rendy sahabatku. Sahabat yang ku cinta.
          “Sya! Kok ngelamun sih? Tu kan bener, kamu emang mikirin aku kan? Jujur deh!” canda  Rendy padaku.
          Aku hanya bisa tersenyum meng-iyakan.
          Aku senang aku bisa bertemu lagi dengan Rendy, dulu aku sempat berpikir kalau Rendy akan lupa dengan aku. Tapi, dia memang sahabatku. Aku kangen banget dengan dia, kangen bukan sebagai seorang sahabat. Tapi rasa kangen itu harus aku tutupi, karena aku tahu, dia kangen aku hanya sebagai seorang sahabat.
          Keesokan harinya aku sudah pulang dari rumah sakit. Aku senang karena aku bisa beraktivitas lagi seperti biasa. Tapi, aku bisa merasa kesedihan lagi.
          “Kamu mau pergi lagi Ren? Kamu tega banget sama aku. Aku baru keluar dari rumah sakit, aku seneng tahu kalau kamu datang. Tapi sekarang kamu mau ninggalin aku lagi?” tangisku tak dapat aku bendung lagi.
“Sya, maafin aku, aku tau kamu ingin kita kayak dulu lagi, aku juga ingin Sya. Tapi aku harus pergi. Maafin aku!” Rendy menghamburkan tubuhnya memelukku.
          Tangisku tak lagi dapat ku bendung. Aku mendorong Rendy hingga jatuh. Aku langsung berlari menuju kamarku. Ku kunci. Ku dekap bantal, aku hanya bisa menangis.
Tok..tok…
          “Sya, maafin aku!” teriak Rendy dari luar kamar.
          “Lebih baik kamu pergi sekarang Ren, aku gak mau kamu ada di sini, kamu pergi aja, dan jangan pernah kembali!” jawabku dengan tegas.
          “Sya!” jawab Rendy lembut.
          “Aku tahu aku salah. Tapi kalau itu udah keputusan kamu, aku pergi. Apa sampai di sini aja persahabatan kita? Kalau kamu anggap gitu, gak apa-apa Sya. Tapi kamu tetap sahabatku.”
          Hati aku pedih mendengarnya bersama langkah kaki Rendy yang sayup-sayup semakin hilang.
          Aku kembali murung disetiap hariku. Tapi aku tetap harus menjadi Marsya yang semangat. Aku sudah mulai kembali kuliah hari ini. Kali ini aku terlambat lagi.
          “Duh, aku telat lagi. Mana ini pelajaran bu Martha, tu dosen kan garang banget” pikiran ku berkelebatan.
          “Stop!” tiba-tiba suara seseorang mengagetkanku.
          “Eh. Ibu maaf!” jawabku sambil cengar-cengir.
          “Marsya, sekarang kamu persentasekan KI kamu!”
Door..door.. aku terkejut, duh hukumannya bikin aku kaget.
          “Duh, KI? Aku kan belum ngerjain. Ini gara-gara Rendy ngapain sih dia pake acara bikin aku BeTe? Pake alasan apa nih?” pikirku bekerja.
          “Baik bu, saya cari dulu di tas.” Jawabku asal-asalan.
 Aku pura-pura mengacak-acak tasku di depan bu Martha. Dan….
          “Woow! Ini apa!” aku berbicara sendiri.
          Ku buka kertas-kertas jilid yang ku temukan itu. Dan ternyata itu adalah tugas yang di berikan bu Martha.
          “Ah, siapa yang dengan baik ngerjain tugasku?”
          Aku tak mau mempermasalahkannya. Toh aku selamat.
          “Makasih Tuhan” ucap ku dalam hati.
          Aku mempersentasekan KI yang tentu bukan buatanku. Dan syukurnya lagi aku dapat nilai terbaik. Tapi aku harus mencari siapa yang mengerjakan tugas itu.
          Ketika ku angkat tasku, selembar kertas jatuh. Ku baca
     To Marsya,
          Sya, gimana tugasnya? Sukseskah? Sekarang kamu pasti bingungkan dengan siapa yang menulis tugas itu. Jika kamu ingin tau, temui aku di taman kota jam 10.45 WIB. Jika kamu terlambat, kamu nggak akan ketemu aku lagi, walau kamu mencariku sampai kapanpun. Ku tunggu kamu.
Disya




“Uh, Disya? Siapa dia sombong amat. Tapi kalau di lihat kayaknya dia baik deh, dia cewek atau cowok ya? Ah, gak penting. Yang jelas kalau dia cewek, aku Cuma mau bilang ‘makasih’ aja. Tapi kalau dia cowok, aku ajak kenalan aja. Siapa tau bisa gantiin Rendy nyebelin itu.” Pikirku nakal.
          Aku berjalan meninggalkan kampus menuju taman kota, diperjalanan aku membeli minuman karena aku sangat haus. Ku lihat jam di tanganku. Jam 10.15. aku berpikir sejenak.
          “Dari sini ke taman tiga puluh menit cukup gak ya?” tanyaku dalam hati.
          Aku melanjutkan jalan sepeda motorku sambil mendengarkan musik, saat terdengar lagu tentang sahabat, aku langsung teringat Rendy. Uh… kalau mengingat anak itu, aku merasa sedih, ingin marah, tapi apa yang bisa aku lakukan. Rendy udah meninggalkan aku ke London.
          Lima belas menit aku udah sampai di taman kota, ku lihat lagi jam tanganku. Jam 10.30.
          “Aku kecepatan!” pikirku suntuk.
          “Kok aku jadi gini sih, kenapa juga aku harus menemui orang ini, siapa sih dia, kalau bukan karena aku ingin ucapin terima kasih, aku gak mau datang ke sini.” Gerutuku sengit.
          Waktu terasa amat lambat, matahari sangat terik, saat aku berniat membeli es krim, aku terkejut karena pundakku di pukul seseorang. Dengan sigap aku memelintir tangan itu.
          “Augh…”
          Orang itu merasa kesakitan. Aku seperti mengenal suara itu, aku membalikkan tubuhku.
          “Rendy!” teriakku.
          Aku begitu terkejut. Kenapa Rendy ada di sini. Aku menyadari ternyata dialah yang udang ngerjain tugas dari bu Martha. Tapi aku masih marah dengannya, aku ingin menamparnya lalu lari. Tapi, Rendy menepis tanganku.
          “Sya, kasar banget sih? Apa kamu masih marah ma aku? Aku minta maaf. Kamu masih mau kan jadi sahabatku? Itu tugas buatanku, dan disya adalah Rendy dan Marsya”
          Aku hanya diam.
          “Aku udah maafin kamu Ren, tapi kenapa kamu minta aku jadi sahabat kamu? Apa kamu belum ngerti? Aku sayang kamu Ren, aku ingin kamu minta aku jadi pacar kamu, bukan sahabat kamu.” Jelasku dalam hati.
          “Eh.. Sya, kok malah ngelamun sih? Kamu mau kan maafin aku dan jadi sahabatku lagi?” Rendy mengagetkanku.
          Aku menghela nafas panjang.
“Oke, aku maafin kamu, tapi janji, jangan ninggalin aku lagi.” Aku mencoba untuk tersenyum.
          “Makasih ya Sya, kamu memang sahabatku.”
          “Ya.. ya.. ya! Kamu baru sadar ya kamu punya sahabat baik kayak aku. Tapi kenapa kamu ninggalin aku? Kamu jahat ya!” aku memarahi Rendy.
          “Ya maaf Sya, aku janji aku gak akan ninggalin kamu lagi. Dan aku punya kejutan buat kamu.” Jelas Rendy.
          “Aku gak terkejut tuh.” Jawabku ketus.
          “Ih, jadi cewek jutek amat sih kamu. Aku yakin kali ini kamu pasti terkejut. Dulu aku emang selalu gak bisa ngejutin kamu. tapi untuk kali ini. Emh.. kamu pasti kalah.” Ledek Rendy.
          “Coba aja kalau kamu bisa.” Tantangku.
          “Aku mulai hari ini gak akan ninggalin kamu karena aku akan pindah ke sini. Satu universitas dan satu jurusan dengan kamu.”
          “Apa? Pindah?” aku terkejut.
          “Tu kan kamu terkejut. Iya Sya aku gak mau kehilangan sahabat aku.” Jelas Rendy lagi.
          Awalnya aku senang karena Rendy akan ada di dekat aku lagi. Tapi, aku harus sedih lagi, karena Rendy pulang bukan untukku. Tapi untuk sahabatnya. Aku sedih, harus sampai kapan aku berbohong akan perasaanku?
          “Sya, kamu kok diam? Kamu gak seneng? Aku pikir!” Rendy terlihat lemas.
          “Ren, aku seneng kok. Aku Cuma bingung aja ama kamu.” Jelasku.
          “Ah, gak usah kamu pikirin. Mending kita jalan-jalan.”
          Kami menjalani hari-hari seperti dulu lagi. Sampai akhirnya aku menyerah.
          “Sya, kayaknya aku jatuh cinta.” Ucap Rendy.
          Aku kira Rendy udah mulai sayasng sama aku, tapi ternyata.
          “Rista baik banget sama aku, dia perhatian. Menurut kamu aku cocok gak sama dia?”
          Rista? Sejak kapan Rendy dekat sama Rista? Aku patah hati lagi. Aku gak mau Rendy sedih. Aku dukung dia.
          “Dia baik Ren, aku setuju kamu sama dia. Aku bantuin kamu buat dapatin dia.”
          Door… aku salah kata di depan Rendy, “Aku bantuin dia” gak mungkin! Rasanya tulangku sangat rapuh. Tapi Rendy tak mengerti. Dia terlihat sangat bahagia. Aku menyerah.
          “Makasih ya Sya.”
Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku.
* * *

          Hari-hari telah berlalu. Rendy dan Rista semakin akrab, tak lebih juga karena bantuanku. Dua hari lagi adalah ulang tahunku. Aku tak berniat mengadakan pesta. Aku hanya ingin mengatakan parasaanku pada Rendy. Setelah aku merancang kata-kata yang akan ku katakan pada Rendy, hari yang ku tunggu akhirnya datang juga. Tapi hari inilah aku merasa sakit.
          “Pagi Sya, selamat ulang tahun ya Sya. Ini ada hadiah buat kamu. Aku harap kamu suka. Dan aku punya satu kejutan buat kamu.”
          “Apa itu? Sebelum kamu kasih aku kejutan itu, aku ingin ngomong ma kamu Ren,” ucapku lanjut.
          “Aduh Sya, aku ingin kamu tahu sekarang.”
          Aku mengalah, aku ikuti Rendy menuju kantin kampus. Aku lihat kampus sangat ramai. Aku kehilangan Rendy, aku melihat ke semua sudut ruangan. Tiba-tiba…
          Plok.. sebutir telur mendarat di kepalaku, aku senang ternyata itu adalah kejutan dari Rendy bersama kue di tangannya. Setelah aku meniup lilin di kue itu aku terheran mengapa semua terdiam. Aku melihat Rendy memegang tangan Rista. Dan…
          “Sya, aku punya kejutan lagi buat kamu.”
Rendy berbalik ke Rista.
“Rista, aku sayang kamu, apa kamu mau mengisi hari-hari aku bersama Marsya?”
Darah mengalir begitu deras di tubuhku, tulangku serasa remuk, aku tak berdaya. Aku melihat seorang yang aku sayangi mengatakan bahwa dia menyayangi orang lain tanpa menghiraukan hatiku. Sakit, perih. Aku ingin menangis. Tapi aku harus menahannya. Aku tak mau Rendy bingung. Aku urungkan rencanaku untuk mengatakan semuanya.
Petir menyambar relung hatiku saat aku mendengar Rista juga menyayangi Rendy. aku terpaksa mengukir senyum di bibir ini.
“Ris, aku seneng kamu juga sayang sama Rendy. Ren, selamat ya. Aku seneng dengan kejutan ini.”
Ya aku terkejut, tapi aku berbohong. Aku ingin cepat pergi dari sini. Tapi itu tak mungkin. Aku melihat semua teman-temanku senang dengan itu. Oh.. malangnya aku.
Akhirnya aku bisa pergi dari hadapan dua insan yang sedang dilanda asmara itu.
Hari yang indah, menyakitkan! Hatiku menangis. Kupandangi halaman rumahku dalam diam dan air mata.
Kring… telepon rumahku berbunyi. Aku malas mengangkatnya. Telepon itu mati. Lalu bordering lagi. Aku pusing. Aku angkat juga telepon itu.
“Hallo, dengan Marsya di sini. Ini dengan siapa dan ada perlu apa?” ucapku malas.
“Sya, makasih ya berkat kamu aku bisa dapatin Rista. aku seneng banget. Aku harap malam ini kamu datang di café cinta aku ingin traktir kamu. Aku gak akan tanya kamu mau atau nggak. Aku gak mau kecewa! Aku tunggu.”
“Tapi..”
Tut…tut…
Tak sempat aku menjawab telfon itu sudah tak menyambung lagi. Aku semakin sedih. Tapi malam ini aku akan datang. Aku gak mau orang yang aku sayang kecewa.
***


Malam hari di Café Cinta, aku melihat Rendy duduk sendiri.
“Di mana Rista?” pikirku.
Aku senang karena tak ada Rista. aku mendekati Rendy. Rendy langsung menyuruhku memesan makanan. Sejam telah berlalu, tak banyak yang kami bicarakan. Sampai…
“Sya, aku seneng punya sahabat seperti kamu. Rista, aku sangat menyayanginya. Makasih ya adikku!”
“Apa? Sayang? Aku harus bisa menerima itu. Aku bukan apa-apa. Tapi, ‘adik’? Kenapa dia memanggilku adik?” tanyaku dalam hati.
“Sya, mungkin kamu bingung kenapa aku panggil kamu adik. Karena aku udah anggap kamu adikku.”
Hati ku hancur.
“Aku juga menganggap kamu kakak aku. Ren aku ingin pulang.” Aku sengaja meminta pulang aku tak kuasa melihatnya. Aku pulang di antar Rendy. Setelah sampai di rumah aku hanya mengucap terimakasih sama Rendy tanpa mengajaknya mampir.
Setelah Rendy berlalu dari hadapanku, aku langsung masuk dan mendengar ayah, mama membicarakan kepindahan ayah ke Inggris.
“Ha… Inggris? Aku iku yah!” ucapku langsung. Aku sengaja ingin ikut karena aku tak ingin ada lagi Rendy di hatiku. Mungkin dengan aku pergi aku dapat melupakan cintaku.
Ayah dan mama menizinkanku untuk ikut pindah. Aku dan keluarga akan pindah tiga hari lagi. Tiga hari cukup untuk mengurus kepindahanku ke Inggris. Sudah dua hari aku selalu menghindar dari Rendy, hingga hari terakhir sebelum aku berangkat. Dua jam sebelum berangkat aku kembali mengecek barang-barangku. Aku teringat akan barang-barangku yang aku tinggal di loker kampus. Aku pun meluncur ke kampus untuk mengambil barang tersebut dan mengembalikan kunci loker kepada staf administrasi. Setelah urusan ku selesai, aku segera pulang.
Tapi saat memasuki daerah parkir motor, aku melihat Rendy, aku mempercepat langkahku. Tapi Rendy dengan sigap mengejarku. Kali ini aku tak bisa mengelak. Aku terpaksa berhenti.
“Sya, kamu kemana aja? Kenapa kamu menghindar dari aku? Dan kamu tiga hari ini gak pernah masuk kuliah, kamu kemana?” cerca Rendy.
Aku tak menjawab.
“Sya. Kamu kenapa? Ayolah Sya, aku gak mau kamu diam aja. Apa aku ada salah?”
Aku masih tak menjawab.
“Sya…!” rengek Rendy.
Aku tak tega melihat Rendy. tapi aku gak boleh lemah. Ku lihat jam tanganku, menunjukkan jam 13.00 WIB. Aku harus bergegas.
“Ren, maafkan aku. Aku harus pergi. Aku sayang kamu kak.” Aku menaiki motorku dan meluncur, aku merasa ada yang terjatuh, tapi tak ku hiraukan. Ku lirik Rendy dari kaca spion, Randy berdiri bingung, lalu menunduk mengambil secarik kertas. Aku tak tau apa itu.
***

Sekarang aku berada di bandara. Kulihat handphoneku, tertera nama Rendy memanggil. Aku tak ingin menggores luka di hatiku lagi. Entah berapa kali Rendy mencoba meneleponku. Aku non-aktifkan handphoneku, karena aku sekarang sudah di dalam pesawat menuju Inggris. Ada kesedihan yang dalam saat aku meninggalkan Indonesia, tapi aku harus bisa.
Delapan jam telah berlalu. Aku turun dari pesawat. Tepatnya sepuluh jam perjalanan aku sudah sampai di rumah baruku. Baru lima menit aku mengaktifkan handphoneku, Randy menelepon lagi. Ku angkat.
“Hallo Sya?, Sya kamu tega meninggalkan aku tanpa pamit. Kamu jahat Sya. Kenapa kamu nggak pernah bilang tentang perasaan kamu? Kenapa Sya? Kenapa justru secarik kertas yang memberi tahuku?”
Aku tak menjawab. Tak terasa air mataku jatuh lagi.
“Sya, maafkan aku yang gak pernah mengerti perasaan kamu. Maafkan aku! Andai kamu kembali! Sya…!”
Aku mendengar Rendy menangis. Aku tak sanggup.
“Ren, aku tak mau di cintai karena kasihan. Maafkan aku meninggalkanmu. Kita sahabat, sampai kapanpun sahabat. Bahagialah bersamanya.”
Tut… tut…
Telepon itu ku putus. Aku menangis, aku tak kuasa mendengar kesedihannya. Sejak itu aku tak lagi mengaktifkan handphoneku.
Malam ini tepat jam 02.45. aku belum terlelap. Ku bongkar koperku, ku ambil diary cintaku, kubuka, tinggal satu lembar lagi kertas kosong. Kutulis kesedihan, kerinduanku, dan cintaku pada Rendy. hingga kututup diary itu, kututup hati ku, cintaku, dengan air mata dan sebuah kalimat menutup kisahku. Dalam diary sang bulan:
Ku sadar harus kututup cinta dan hati ini, dan aku ingin terlepas dan tak ingin lagi terjebak dalam kisah cerita, kisah hidup, dalam cinta yang tak berujung dengan torehan tinta hitam ku tulis, takkan ada lagi judul cerita dalam hidupku “Cintaku Untukmu, tapi Untuk dia Cintamu”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar