Jumat, 24 Mei 2013

PENGARUH GIZI TERHADAP PERKEMBANGAN BALITA




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL 
DAFTAR ISI  .............................................................................................      1
BAB I PENDAHULUAN  .........................................................................      2
A.     Latar Belakang  .............................................................................      2
B.     Rumusan Masalah  ........................................................................      2
C.     Tujuan  ............................................................................................      3
BAB II PEMBAHASAN 
A.     Makanan yang bergizi  ..................................................................      4
B.     Gizi balita  .......................................................................................      5
C.     Pemberian Makanan Pada Balita  ................................................      11
D.    Anak Susah Makan........................................................................      12
E.     Pengaruh Gizi Buruk Bagi Perkembangan Balita  .......................      15
BAB III KESIMPULAN  ..........................................................................      20
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................      21











BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Makanan merupakan salah satu factor yang mempengaruhi perkembangan individual. Hal ini terutama pada tahun-tahun pertama ari kehidupan anak, makanan merupakan factor yang sangat penting bagi pertumbuhan yang normal dari setiap individu. Oleh sebab itu, dalam rangka perkembangan dan pertumbuhan anak menjadi sehat dan kuat , perlu memperhatikan makanan, tidak saja dari segi kuantitas (jumlah) jumlah makanan yang dimakan, melainkan juga dari segi kualitas (mutu) makanan itu sendiri. Makanan yang banyak hanya akan mengenyangkan perut, tetapi gizi yang cukup akan dapat menjamin pertumbuhan yang sempurna.
Pada balita, pemberian makanan yang bergizi bermanfaat dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangannya. Namun, mekanan yang kurang gizi dapat berdampak buruk kepada balita yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhannya pula.
Dengan demikian jelas betapa makanan mempunyai pengaruh besar bukan saja terhadap pertumbuhan jasmani manusia, tetapi juga terhadap perkembangan jiwa.

B.       Rumusan Masalah
1.      Apa itu makanan yang bergizi baik?
2.      Gizi apa sajakah yang diperlukan balita?
3.      Apa manfaat gizi pada balita?
4.      Bagaimanakah dampak kekurangan gizi/gizi buruk pada balita dan penyembuhannya?
  
C.       Tujuan
1.      Mengetahui makanan yang bergizi
2.      Mengetahui gizi yang dibutuhkan balita
3.      Megetahui manfaat gizi pada balita
4.      Mengetahui dampak kekurangan gizi/gizi buruk pada balita dan upaya penyembuhannya



BAB II
PEMBAHASAN

A.       Makanan yang Bergizi
Makanan adalah bahan, biasanya berasal dari hewan dan tumbuhan, dimakan oleh makhluk hidup untuk memberikan tenaga dan nutrisi. Kecukupan makanan dapat dinilai dengan status gizi secara antropometri.
Setiap makhluk hidup membutuhkan makanan. Tanpa makanan, makhluk hidup akan sulit dalam mengerjakan aktivitas sehari-harinya. Makanan dapat membantu manusia dalam mendapatkan energy, membantu pertumbuhan badan dan otak.
Setiap makanan memiliki kandungan gizi yang berbeda dan mempunyai fungsi berbeda pula. Contoh kandungan gizi dan fungsinya serta contoh makanan adalah sebagai berikut:
·        Karbohidrat yang berfungsi sebagai sumber tenaga. Contohnya nasi, sagu, jagung, dan singkong.
·        Protein berfungsi untuk membantu pertumbuhan, baik otak maupun tubuh (protein nabati : tumbuhan kacang-kacangan, protein hewani : daging ikan, telur).
·        Lemak berfungsi sebagai cadangan makanan dan sebagai cadangan energy seperti terdapat pada daging sapi, susu, yoghurt, dan alpukat.
·        Vitamin berfungsi mengatur metabolism serta melidungi sel dari kerusakan. Berasal dari misalnya buah-buahan.
·        Mineral (fosfor, kalsium, natrium, dll) berfungsi untuk pembentukan jaringan tubuh dan pengendali proses-proses fisiologik. Misalnya berasal dari susu, kacang-kacangan, mentega, garam, dll.

B.       Gizi Balita
Gizi Balita dalam pertumbuhan yang baik tidaklah hanya bersifat fisik tetapi juga mental dan intelektualitas, sehingga proses pertumbuhan tersebut lazim disebut bukan saja sebagai proses pertumbuhan tetapi sebagai proses tumbuh-kembang.
Menurut dr. Soedjatmiko. Agar proses tumbuh-kembang dapat berjalan dengan optimal, seorang anak harus mendapatkan pemenuhan gizi balita dari 3 kebutuhan pokoknya, yaitu:
1.      Pertama adalah kebutuhan fisik-biologis, berupa kebutuhan akan nutrisi (ASI, Makanan Pengganti ASI/MP-ASI), imunisasi, serta kebersihan fisik dan lingkungan.
2.      Kedua adalah kebutuhan emosi berupa kasih kasih sayang, rasa aman dan nyaman, dihargai, diperhatikan, serta didengar keinginan dan pendapatnya. Kebutuhan ini memiliki peran yang sangat besar pada kemandirian dan kecerdasan emosi anak. “Oleh sebab itu perbanyaklah memberi limpahan kasih sayang dan kegembiraan bagi anak,” Jelas dr. Soedjatmiko.
3.      Ketiga yang tak kalah penting adalah kebutuhan akan stimulasi yang mencakup aktivitas bermain untuk merangsang semua indra, mengasah motorik halus dan kasar, melatih ketrampilan berkomunikasi, kemandirian, berpikir dan berkreasi. Stimulasi ini harus diberikan sejak dini karena memiliki pengaruh yang besar pada ragam kecerdasan atau multiple intelligences.

Ketiga kebutuhan gizi balita tersebut merupakan kebutuhan pokok yang saling terkait. Satu kebutuhan bukanlah substitusi kebutuhan yang lain, oleh sebab itu ketiga gizi balita tersebut harus terpenuhi untuk mencapai perkembangan otak dan pertumbuhan anak yang optimal. Karena apabila kebutuhan gizi balita berupa fisik-biologis tak tercukupi, tentu anak jadi sering sakit dan perkembangan otaknya pun tak optimal. Lalu kalau kebutuhannya akan kasih sayang tak tercukupi, kecerdasan emosinya juga relatif rendah. Sedangkan jika stimulasi bermainnya kurang bervariasi, perkembangan kecerdasannya juga kurang seimbang. Jadi, asupan gizi balita yang diberikan haruslah seimbang.

1.    Pentingnya asupan Gizi Bagi Balita
Asupan gizi balita haruslah diperhatikan, terutama dalam 5 tahun pertama dalam kehidupannya karena asupan gizi balita pada masa itu adalah yang penting dan akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya.
Pada 3 tahun pertama kehidupan, gizi balita berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak masih berlangsung dan terjadi pertumbuhan serabut-serabut saraf dan cabang-cabangnya sehingga terbentuk jaringan saraf dan otak yang kompleks.
Gizi balita yang cukup akan mempengaruhi segala kinerja otak, yaitu:
ü  Kemampuan belajar berjalan,
ü  Mengenal huruf,
ü  Bersosialisasi atas pengaruh jumlah dan pengaturan hubungan-hubungan antarsel saraf.

Sedangkan perkembangan kemampuan bicara dan bahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya.

2.        Komposisi Asupan Gizi Pada Balita
Menurut Marzuki Iskandar, STP. MTP seorang ahli gizi balita mengungkapkan: “kunci asupan zat gizi balita yang baik adalah makanan yang sehat dan bervariasi.

Agar gizi balita melalui makanan anak setiap harinya dapat memenuhi kebutuhan perkembangan kecerdasan dan pertumbuhan fisik yang optimal, maka komposisi makanan haruslah terdiri atas 55-67% karbohidrat, 20-30% lemak, dan 13-15% protein agar gizi balita terpenuhi. “Konkretnya gizi balita berupa 3-4 porsi nasi atau penggantinya seperti bihun, mi atau roti yang merupakan sumber zat tenaga.

Sumber zat pembangun diperoleh dari 4-5 porsi lauk-pauk ditambah sumber zat pengatur berupa vitamin dan mineral yang terdiri dari 2-3 porsi sayur dan buah,” jelas Marzuki.

Komposisi gizi balita melalui makanan tersebut akan disempurnakan dengan kehadiran susu sebagai sumber zat tenaga yang juga mengandung berbagai komponen gizi balita yang penting, seperti DHA, AA, Sialic Acid, Sphingomyelin, protein, vitamin, dan mineral.

Kandungan gizi balita yang terdiri dari:
a.    DHA dan AA merupakan asam lemak rantai panjang tak jenuh ganda sebagai komponen utama pembentuk otak dan retina mata. DHA dan AA juga berperan penting dalam mengoptimalkan fungsi membran sel otak, retina mata, serta proses metabolisme sel-sel syaraf dalam otak.
b.   Sialic acid (SA), bagian dari ganglion otak, berdasarkan penelitian memiliki peran penting dalam proses pembelajaran dan pembentukan daya ingat anak.
c.    Sphingomyelin adalah suatu kandungan lemak di dalam otak, berperan sebagai kerangka penyusun membran sel serta banyak fungsi lainnya. Sphingomyelin berperan juga dalam pembentukan lapisan pelindung myelin, dimana myelin berfungsi untuk mempercepat rangsangan dari sel syaraf yang satu ke sel syaraf lainnya guna mengoptimalkan kemampuan otak dalam mengirim pesan.

Oleh sebab itu pemenuhan gizi balita dalam pemilihan susu, penting sekali untuk memilih susu yang mengandung zat-zat yang penting bagi pertumbuhan otak tersebut. Tentu saja tujuannya agar gizi balita Anda terpenuhi dan balita dapat tumbuh secara otimal, baik secara fisik maupun intelektual.

·        Menentukan berat badan ideal balita menggunakan rumus:
ü  BBI = (Usia dalam tahunan X 2) + 8


·        Menentukan Estimasi Kebutuhan Energi dan Gizi Total Perhari menggunakan rumus:
ü  Keb. Energy = 1000 + (100 x usia dalam tahunan)
ü  Keb. Energy usia 1 – 3 tahun = 100 kalori/kgBBI
ü  Keb. Energy usia 4 – 5 tahun = 90 kalori/kg BBI
ü  Keb. Protein ; (10% x total energy harian) : 4 = x gram
ü  Keb. Lemak ; (20% x Total energy harian) : 9 = x gram
ü  Keb. Kabohidrat ; total energy – keb. Protein dan lemak.

3.    Panduan memberikan makanan pada balita (0-12 bulan)
a.    Pemberian ASI
ü Usia 0 : Pemberian kolostrum (IgG) pada saat bayi baru dilahirkan. Kolostum adalah cairan pra-ASI yang dihasilkan dalam 24-36 jam pertama pasca persalinan. Kolostrum mengandung gizi yang baik untuk bayi yaitu karbohidrat, protein dan sedikit lemak. Berfungsi sebagai suplai kekebalan (imun) dan penyuplai nutrient yang sempurna bagi bayi
ü Usia 0-3 bulan: pemberian 116kcal./kg. 18-32 ons ASI eklusif.
ü Usia 4-6 bulan: pemberian 28-40 ons ASI.
ü Usia 7-9 bulan : pemberian 24-36 ons ASI
ü Usia 10-12 bulan : pemberian 18-30 ons ASI
b.      Sereal
ü 0-3 bulan: tidak ada
ü 4-6 bulan:1/4-1/2 cangkir sereal
ü 7-9 bulan: 1-2 cangkir (pure kentang, pasta, nasi, roti, kerupuk yang lembut)
ü 10-12 bulan : 3-4 ½ cangkir

c.       Buah-buahan/Jus
ü 0-3 bulan : tidak ada
ü 4-6 bulan: ¼-1/2 cangkir bubur
ü 7-12 bulan : buah-buahan segar ½-1 cangkir bubur, seperti pisang
d.      Daging, Unggas, telur, ikan, kacang kering yang dimasak, dll
ü 0-5 bulan: tidak ada
ü 6-8 bulan:1-2 sendok makan bubur
ü 9-12 bulan: 1/4-1/2 cangkir
e.       Yoghurt
ü 0-5 bulan = tidak ada
ü 6-12 bulan: 1-2 sendok makan / hari setelah usia 6 bulan
f.        Air
ü 0-5 bulan: tidak perlu kecuali cuaca sedang sangat panas dan bayi diare
ü 6-12 bulan: sesering bayi akan minum
g.       Suplemen
ü Besi = 4-12 bulan bayi membutuhkan sekitar 1 mg paling banyak 10 mg per hari.

h.       Vitamin D
Diperlukan jika bayi tidak terkena sinar matahri. 300 IU perhari selama 0-6 bulan dan 600 IU perhari selama 6-12 bulan.
i.         Vitamin B12
Dibutuhkan bayi jika ibu adalah vegan (vegetarian ketat)
Dalam membeli bahan makanan yang berkemasan/cepat saji sebaiknya si ibu memeriksa kualitas product dan mengetahui berapa banyak dosis/suplay makanan yang dibutuhkan bayi.


C.       Pemberian Makanan Pada Balita
Syarat pemberian makanan pada balita:
1.      Diberikan secara bertahap sesuai dengan kondisi anak balita
2.      Kalori tinggi, bertahap mulai dari 50 kkal/kg BB tinggi 150 – 300 kkal/kg BB sehari
3.      Protein tinggi, bertahap mulai dari 1 gram/kg BB hingga 3 – 5 gram/kg BB sehari
4.      Banyak cairan terutama diare, jumlah cairan 200 mi/kg BB sehari. Bentuk makanan sesuai keadaan : cair, lumat, lunak, dan biasa.

Tahap pemberian makanan pada anak balita gizi buruk ada tiga tahap yaitu tahap penyesuaian, pertumbuhan, lanjutan.
1.         Tahap penyesuaian
Diberikan selama 1-2 minggu atau lebih tergantung pada kemampuan balita menerima dan mencerna. Kalori diberikan mulai dari 50 kkal/kg BB.
Sumber protein utama susu, diberikan secara bertahap dengan keenceran 1/3, 2/3, 3/3, masing-masing tahap selama 2-3 hari.
Jika berat badan kurang dari 7 kg, makanan yang harus diberikan berupa makanan yang dimodifikasi ( bubur susu ). Secara berangsur diberikan makanan lunak.
Jika berat badan 7 kg atau lebih, makanan yang diberikan seperti untuk anak 1 tahun: dengan bentuk makanan sesuai kondisi.
2.         Tahap penyembuhan
Bila nafsu makan dan toleransi terhadap makanan bertambah baik, secara berangsur pemberian makanan ditingkatkan.
3.         Tahap lanjutan
Dapat diberikan makanan biasa. Pada tahap ini harus cukup energi, protein dan zat gizi lainnya yang mengandung antara 1100-1500 kalori dan 25-50 gram protein per hari.


D.      Anak Susah Makan
Pemberian makan pada anak memang sering menjadi masalah buat orangtua atau pengasuh anak. Keluhan tersebut sering dikeluhkan orang tua kepada dokter yang merawat anaknya. Faktor kesulitan makan pada anak inilah yang sering dialami oleh sekitar 25% pada usia anak, jumlah akan meningkat sekitar 40-70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Hal ini pulalah yang sering membuat masalah tersendiri bagi orang tua, bahkan dokter yang merawatnya. Penelitian yang dilakukan di Jakarta menyebutkan pada anak prasekolah usia 4-6 tahun, didapatkan prevalensi kesulitan makan sebesar 33,6%. Sebagian besar 79,2% telah berlangsung lebih dari 3 bulan
Kesulitan makan karena sering dan berlangsung lama sering dianggap biasa. Sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak. Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah pemberian vitamin tanpa mencari penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut terjadi berkepanjangan. Akhirnya orang tua berpindah-pindah dokter dan berganti-ganti vitamin tapi tampak anak kesulitan makannya tidak membaik. Sering juga terjadi bahwa kesulitan makan tersebut dianggap dan diobati sebagai infeksi tuberkulosis yang belum tentu benar diderita anak.
Dengan penanganan kesulitan makan pada anak yang optimal diharapkan dapat mencegah komplikasi yang ditimbulkan, sehingga dapat meningkatkan kualitas anak Indonesia dalam menghadapi persaingan di era globalisasi mendatang khususnya. Tumbuh kembang dalam usia anak sangat menentukan kualitas seseorang bila sudah dewasa nantinya.
Penyebab kesulitan makanan itu sangatlah banyak. Semua gangguan fungsi organ tubuh dan penyakit bisa berupa adanya kelainan fisik, maupun psikis dapat dianggap sebagai penyebab kesulitan makan pada anak. Kelainan fisik dapat berupa kelainan organ bawaan atau infeksi bawaan sejak lahir dan infeksi didapat dalam usia anak.
Secara umum penyebab umum kesulitan makan pada anak dibedakan dalam 3 faktor, diantaranya adalah hilang nafsu makan, gangguan proses makan di mulut dan pengaruh psikologis.
        a.     Hilangnya Nafsu Makan
Pengaruh hilang atau berkurangnya nafsu makan tampaknya merupakan penyebab utama masalah kesulitan makan pada anak. Pengaruh nafsu makan ini bisa mulai dari yang ringan (berkurang nafsu makan) hingga berat (tidak ada nafsu makan).


        b.     Gangguan Fungsi pencernaan
Berkurang atau hilangnya nafsu makan ini sering diakibatkan karena gangguan fungsi saluran cerna khususnya anak dengan gangguan mual, mudah muntah dan gangguan buang air besar
    c.          Gangguan proses makan atau gangguan oral motor
Proses makan terjadi mulai dari memasukkan makan dimulut, mengunyah dan menelan. Keterampilan dan kemampuan koordinasi pergerakan motorik kasar di sekitar mulut sangat berperanan dalam proses makan tersebut. Pergerakan morik tersebut berupa koordinasi gerakan menggigit, mengunyah dan menelan dilakukan oleh otot di rahang atas dan bawah, bibir, lidah dan banyak otot lainnya di sekitar mulut. Gangguan proses makan di mulut atau gangguan oral motor tersebut seringkali berupa gangguan mengunyah makanan.
    d.          Gangguan psikologis
Gangguan pskologis bisa dianggap sebagai penyebab bila kesulitan makan itu waktunya bersamaan dengan masalah psikologis yang dihadapi. Bila faktor psikologis tersebut membaik maka gangguan kesulitan makanpun akan membaik. Untuk memastikannya kadang sulit, karena dibutuhkan pengamatan yang cermat dari dekat dan dalam jangka waktu yang cukup lama. Karenanya hal tersebut hanya mungkin dilakukan oleh orang tua bekerjasama dengan psikater atau psikolog.

Cara Mengatasi Anak Susah Makan
       a.            Jika anak sudah semakin besar, orang tua harus memberikan suasana makan yang menyenangkan untuk   anak.
      b.            Menvariasikan menu makan anak.  Hal ini dilakukan agar tidak mudah merasa bosan. 
       c.            Berikan makanan selingan untuk anak anda. Memberikan makanan selingan pada anak dapat membantu untuk memenuhi kebutuhan gizi terutama bagi anak yang susah makannya. Namun tentunya kita harus memperhatikan kandungan gizi pada makanan selingan tersebut agar tetap memperhatikan kehigienisan makanan dan juga kandungan vitamin atau gizinya. Jangan sampai anak diberikan makanan snack-snack yang mengandung pewarna dan penyedap rasa yang akan membahayakan kesehatan anak.
      d.            Orang tua harus menghindari  gaya memaksa dan mengancam dalam menyuruh anak untuk makan. Untuk anak selalu gunakan gaya persuasi atau mengajak dengan membujukanya dan gunakan nada suara yang lembut serta jelaskan arti pentingnya makan untuknya. Supaya anak lebih  semangat dalam makan, maka libatkanlah anak Anda untuk menyiapkan makanannya sendiri. Selain mengenalkan jenis makanan yang bisa dikonsumsi, kegiatan ini juga cukup menyenangkan.
       e.            Gunakan piranti saji dengan bentuk dan warna yang menarik seperti bentuk miki mouse, bentuk bebek dan bentuk-bentuk menarik lainnya. Pilih piranti berlabel food grade sehingga aman dan tidak mencemari makanan anak anda. Berikan makan secara sedikit demi sedikit, tetapi usahakan sesering mungkin. itulah point terakhir dari cara mengatasi anak susah makan

E.       Pengaruh Gizi Buruk Bagi Perkembangan Balita
Gizi buruk pada anak balita disebut juga kurang energi protein, ditandai dengan kondisi berat badan kurang dari berat seharusnya. (berat badan pada KMS berada dibawah garis merah atau pita kuning bagian bawah).
Berbagai hasil penelitian mengungkapkan bahwa kurang gizi yang berlangsung sangat cepat pada waktu pertumbuhan, membawa akibat tingkah laku yang tidak normal pada anak tersebut, yaitu: Anak menjadi tidak responsif, sulit berkomunikasi dan tidak energik.

Hasil uji kecerdasan menunjukan bahwa anak tersebut tidak saja mempunyai IQ yang rendah, tetapi kemampuan belajar dan kemampuan akademiknya juga rendah. Apabila keadaan kurang gizi cukup berat maka efek negatif ini bisa menetap hingga dewasa. Tetapi apabila tidak berat makafungsi kecerdasan ini dapat diperbaiki dengan bertambah baiknya keadaan gizi anak.

Jenis-jenis gizi buruk:
1)   Kwashiorkor, dengan ciri-ciri: Edema (pembengkakan tubuh, pandangan mata sayu, rambut kemerahan dan mudah dicabut tanpa rasa sakit, perubahan statul mental (apatis dan rewel), terjadi pembesaran hati, otot mengecil, kelainan kulit, disertai penyakit infeksi yang umum dan akut, anemia dan diare.
 Gambar gizi buruk kwashiorkor
2)   Marasmus, dengan ciri-ciri: badan Nampak kurus, wajah seperti orang tua, mudah menangis, rewel, kulit menjadi keriput. Jaringan lemak subkutis sangat sedikit, perut cekung, penyakit infeksi yang kronis, diare kronik dan susah buang air.
 Gambar gizi buruk Marasmus
3)   Marasmic- kwashiorkor, dengan ciri-ciri gabungan dari kedua jenis di atas.
 Gambar gizi buruk Marasmic- kwashiorkor
4)   Obesitas, dengan ciri-ciri: kelebihan kalori, akumulasi jaringan lemak berlebihan.
 Gambar Gizi buruk Obesitas


Pencegahan gizi buruk pada anak di antaranya:
1)   Memberikan ASI ekslusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan setelah itu diberi makana pendamping ASI sesuai tingkatan umur, lalu disapih setelah umur 2 tahun.
2)   Diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, mineral, dan vitaminnya.
3)   Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program posyandu.
4)   Jika anak diharuskan masuk rumah sakit akibat gizi buruk, maka ibu harus tanggap dalam menanyakan jenis makanan yang harus diberikan.

Jika anak telah menderita kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak dan gula.
Pengaruh kurang gizi pada tumbuh kembang anak antara lain :
a.    Pada pertumbuhan anak : berat badan tidak sesuai dengan umur, tinggi badan tidak sesuai dengan umur, berat badan tidak sesuai dengan tinggi badan, lingkar kepala dan lingkar lengan kecil.
b.    Pada perkembangan anak : berat, besar otak tidak bertambah, tingkah laku anak tidak normal, tingkat kecerdasan menurun.

Penyebab timbulnya gizi buruk, umumnya:
a.    Factor sosial, rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya makanan bergizi bagi pertumbuhan anak.
b.    Factor kemiskinan, rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan kebutuhan paling mendasar sering kali tidak bisa terpenuhi.
c.    Laju pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya ketersediaan bahan pangan.
d.    Infeksi, disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyeap zat-zat makanan
e.    Kurang makan makanan yang bergizi dalam waktu yang lama

Anak yang mengalami gangguan dan kesehatan gizi (pada anak gagal tumbuh) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)   Kegagalan mencapai tinggi dan berat badan ideal
2)   Hilangnya lemak di bawah kulit secara signifikan
3)   Berkurangnya massa otot
4)   Infeksi berulang

Pengobatan anak gizi buruk:
1)      Pada stadium ringan dengan perbaikan gizi
2)      Pengobatan pada stadium berat cenderung lebih kompleks karena masing-masing penyakit harus diobati satu persatu.

Keadaan gizi anak sejak dalam kandungan dan masa bayi juga membawa pengaruh pada proses tumbuh kembang. Apabila semasa dalam kandungan, si Ibu mengalami kurang gizi, maka kemungkinan besar proses tumbuh kembang bayi di dalam kandungan juga terganggu, pada masa bayi, ternyata anak yang diberi ASI secara ekslusif memberikan gambaran kembang tumbuh yang lebih optimal dibandingkandengan bayi yang tidak diberikan ASI.

Zat gizi yang mengandung karbohidrat/energi/kalori, protein dan zat besi memperlihatkan pengaruh nyata pada pertumbuhan anak. Asupan makanan yang mengandung gizi seimbang pada masa balita memberikan efek yang baik bagi proses tumbuh kembang anak.





BAB III
KESIMPULAN

Setelah membaca uraian panjang mengenai GIZI pada balita, dapat dipahami bahwa gizi merupakan kebutuhan pokok dan penting bagi pertumbuhan dan pekembangan balita. Oleh karena itu, pemberian gizi pada balita haruslah memperhatikan angka kebutuhan gizi dan pemberian gizi yang seimbang dan orang tua harus cepat tanggap dalam menangani kebutuhan asupan gizi pada anaknya.






















DAFTAR PUSTAKA

Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Pesrta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya

Widodo Judarwanto. Picky Eaters and Grow Up Clinic, Jakarta Indonesia dalam http://wikipedia.com/


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar